Image
By agus

Ramadhan Bagaikan Diklat SPI

Jumat, 22 Mei 2019; |  Jam 09:35:45 WIB  |  0 comments

Bagi umat Islam, Ramadhan adalah bulan istimewa yang didalamnya diwajibkan bagi orang yang beriman untuk puasa. Puasa bukan hanya milik umat Islam, umat-umat agama lain juga punya, bahkan dunia kedokteran pun punya instrumen ini. 
Mengapa hampir semua memiliki instrumen ini ?  karena banyak manfaat yang ada di dalamnya, terutama manfaat spiritual bahkan kesehatan.  

Ramadhan ternyata bagi kita penggiat dunia organisasi kerja, bisnis, maupun sosial ini bisa disamakan dengan sebuah training HRD (human resource development) alias training SDM, dan bagi Instansi Pemerintah Puasa bagaikan DIKLAT MATURITAS PENGENDALIAN INTERN (SPI) 
Mari kita tengok,  selama satu bulan Ramadhan mereka yang berpuasa melakukan sesuatu yang sebenarnya di bulan biasa itu semua dibolehkan, yaitu makan, minum, dan berhubungan dengan suami/istri di siang hari. Namun, selama satu bulan penuh dari terbit matahari sampai terbenamnya, itu semua dilarang. Apa tujuannya? Dalam surat Al-Baqoroh ayat 183 dijelaskan bahwa tujuan puasa adalah agar kalian menjadi bertakwa. Taqwa merupakan derajat manusia yang paling mulia, manusia yang memiliki integritas tinggi, yang patuh terhadap peraturan perundang-undangan.
Jadi, puasa Ramadhan memiliki sebuah tujuan membentuk diri menjadi sesuatu yang akan sangat berguna di sebelas bulan kemudian. Dengan demikian Ramadhan bagaikan sebuah diklat. 

Ketika kita melakukan sesuatu yang sebenarnya boleh tapi tidak berani kita lakukan dalam kurun waktu tertentu tanpa ada yang mengawasi, itu berarti kita melatih 5 hal penting dalam pembinaan SDM sekaligus: 
1. Latihan bangun etika dan perilaku
2.Latihan bangun komitmen.
3. Latihan pengendalian diri.
4. Latihan disiplin. 
5. Latihan manajemen waktu. 
Tanpa pengawas dari pagi sampai magrib dan kita mampu melakukannya, artinya itu adalah komitmen tingkat tinggi bukan? Ini dilakukan setiap hari selama sebulan, tentu merupakan latihan luar biasa bagi SDM. Kita tahu organisasi apapun membutuhkan etika,  perilaku dan komitmen anggotanya. 

Menahan tidak makan dan tidak minum padahal barang itu tersedia, suasana panas atau capek dan mungkin saat itu tidak ada orang selain kita tentu sebuah ujian kesabaran yang luar biasa. Makna sabar sehari-hari adalah mengendalikan diri kita saat kita sebenarnya mampu mengerjakan lebih, meraih lebih atau mendapatkan lebih.
Sebelum puasa, kita diberi keringanan untuk makan sahur dulu untuk persiapan. Artinya ia harus bangun lebih awal setiap hari. Sebaliknya saat berbuka, kita juga harus tepat waktu untuk berbuka, tidak boleh curi start. Ini adalah pelatihan disiplin yang diulang-ulang setiap hari. 

Dan terakhir, semua hal diatas selalu berbasiskan waktu yang tepat, detil dan konsisten. Ini tentu menunjukkan bagaimana kita harus mengelola waktu dengan sangat tepat alias presisi tingkat tinggi. 

Organisasi manapun tentu membutuhkan anggota/pegawai yang memiliki skill dasar sebagaimana di atas. Ramadhan mengajarkan pada kita untuk membentuk kualitas tertentu (bagi umat islam adalah menjadi takwa), maka organisasi harus punya instrumen khusus seperti itu. Jika tidak, siap-siap saja organisasi kita hanya berisi mereka yang tidak mendukung kemajuan organisasi, akibatnya entitas (organisasi) hanya berjalan ditempat tidak mampu menggapai tujuan.

Semoga bermanfaat.... 
Drs.  Raden Lukman.  M.Si (P2UPD Madya)